BENGKULU.WAHANANEWS.CO, Kota Bengkulu – Filsafat, secara etimologis berasal dari bahasa Yunani: "philosophia", yang berarti cinta akan kebijaksanaan (philo = cinta, sophia = kebijaksanaan). Sejak era Yunani Kuno sekitar abad ke-6 SM, filsafat dipelajari sebagai cara manusia memahami dunia, diri, dan tujuan hidup. Ia bukan sekadar teori rumit, tapi sarana berpikir kritis, analisis didalam perkembang peradaban itu sendiri.
Filsafat sering dianggap barang usang, sesuatu yang hanya pantas dibahas di ruang kuliah atau buku tebal berdebu. Kebanyakan orang menganggapnya rumit, jauh dari realitas, dan tak berguna untuk kehidupan sehari-hari. Tapi, jika kita kembali pada hakikatnya, filsafat tidak pernah mati. Ia bukan sekadar ilmu, tapi cara manusia bertahan dengan akal sehatnya di tengah dunia yang sering kali tidak masuk akal. Filsafat adalah inti dari manusia itu sendiri. Ilmu filsafat hanya merangkum dan mendefinisikan cara dan metode berfikir manusia. Filsafat berkutat dengan proses, bukan hasil. Maka, filsafat adalah induk dari segala ilmu pengetahuan dan sains.
Baca Juga:
Tradisi Filsafat Timur dan Barat
Sejak awal peradaban, manusia selalu bertanya. Siapa saya? Mengapa manusia ada? Apa tujuan hidup ini? Apakah dunia ini nyata atau hanya bayangan? Pertanyaan-pertanyaan itu bukan sekadar rasa ingin tahu. Ia lahir dari kegelisahan manusia ketika berhadapan dengan sesuatu yang tak bisa dipahami hanya dengan naluri atau perasaan. Dan di sanalah filsafat lahir-bukan sebagai jawaban instan, tapi sebagai alat untuk mencari cara bertanya dan menemukan arah. "Gelisah dan rasa ingin tahu" adalah dua kata kunci awal ketika manusia menggunakan akal lalu berfikir, menganalisa dan menimbang sebelum memutuskan untuk melakukan tindakan.
Bagi saya, filsafat adalah logika yang diberi arah. Tanpa logika, filsafat hanya akan menjadi permainan kata-kata. Terdengar indah, puitis dan menyentuh tapi tanpa tujuan pasti,-akhirnya logika itu hanyalah mesin dingin yang tak pernah menyentuh esensi yang hakiki.
Filsafat Bukan Sekadar Teori
Baca Juga:
Dialektika: Dari Socrates hingga Hegel
Kita sering mendengar nama-nama seperti Socrates, Plato, Ibn Sina, Descartes, Kant, atau Al-Ghazali. Banyak yang memuja mereka sebagai "para filsuf besar", seolah-olah filsafat hanyalah milik mereka. Padahal, filsafat bukan milik segelintir orang. Siapapun yang bertanya dengan jujur, menimbang dengan akal, dan berani menerima kesimpulan meski pahit-ia sudah menjalankan filsafat.
Contoh sederhana: saat kita melihat peradaban modern dengan segala kemajuannya, lalu bertanya, "Apakah ini semua benar-benar membawa manusia menuju kebaikan? Atau justru mempercepat kehancurannya?" Pertanyaan itu, meskipun terdengar sederhana, adalah inti filsafat. Ia menolak menerima keadaan begitu saja, dan memaksa kita mencari dasar logis di baliknya.
Mengapa Masih Penting?
Sebagian orang menganggap filsafat sudah usang. "Untuk apa berpikir terlalu jauh, dunia ini toh sudah diatur sains, teknologi, dan agama?" Tapi justru di zaman modern, filsafat makin dibutuhkan.
Sains memberi data, tapi tidak memberi makna. Teknologi memberi kemudahan, tapi juga ancaman. Agama memberi tuntunan, tapi sering kali terjebak tafsir sempit atau kepentingan kekuasaan. Di tengah kebingungan itu, filsafat berperan sebagai penyaring akal: ia membantu manusia memilah, menimbang, dan mencari pijakan yang rasional dan jernih.
Filsafat tidak memberi semua jawaban., namun mengajarkan kita cara bertanya yang benar. Ia melatih bagaimana menyusun premis, menguji argumen, membedakan mana fakta, opini, ilusi bahkan mitos. Kemampuan ini lebih berharga dari sekadar hafalan dan teori, justru ia sebagai benteng pertahanan atas kesesatan berfikir (logical fallacy) di jaman informasi yang semakin terbuka.
Untuk artikel lengkap : Filsafat Logika (Ep-1) | Apa itu filsafat dan Mengapa Masih Penting?
Seri 1: https://bengkulu.wahananews.co/khas/catatan-filsafat-l41csTGYm4
[Redaktur: Ramadhan HS]