BENGKULU.WAHANANEWS.CO, Kota Bengkulu – Sejak awal filsafat, manusia terbagi dalam dua kubu besar saat mencari kebenaran.
Empirisme, percaya pada pengetahuan yang lahir dari pengalaman indera. Dunia nyata adalah sumber utama pengetahuan.
Baca Juga:
Skeptisisme: Saat Semua Diragukan
Rasionalisme, percaya pengetahuan sejati lahir bukan dari pengalaman empiris. Ia berasal dari akal, ide bawaan, dan logika yang menjadi fondasi kebenaran.
Dua kubu ini membentuk hampir semua perdebatan ilmu, dari sains, agama, hingga moral. Bagi saya, keduanya tidak perlu menimbulkan pertentangan--tapi dua alat itu sama-sama penting dan harus dipakai bersama, agar akal tidak buta oleh pengalaman mentah atau oleh ide yang kosong.
1. Refleksi Pribadi Saya (melalui debat dan kerja akal): Empirisme vs Rasionalisme dalam Kebenaran Agama
Baca Juga:
Logika Adalah Tulang Punggung Filsafat
Pernah saya mengatakan: "Jika semua kebenaran hanya berdasar pengalaman indera, maka wahyu akan dianggap mitos. Tapi jika semua kebenaran hanya berdasar ide akal, maka alam nyata tidak akan dihargai. Karena itu, agama yang benar harus bertahan di dua ranah: diuji dengan akal dan dikuatkan oleh realitas."
Contoh silogisme yang saya gunakan saat debat lintas iman:
Semua kebenaran sejati tidak mungkin bertentangan dengan realitas.