BENGKULU.WAHANANEWS.CO, Kota Bengkulu – Skeptisisme adalah sikap atau pandangan yang meragukan klaim atau informasi, terutama jika belum memiliki dasar bukti yang kuat. Ia bukan sekadar sifat "tidak percaya", tapi metode untuk mengguncang keyakinan agar akal tidak mudah diperdaya oleh kebohongan yang dibungkus kepastian.
Secara garis besar, skeptisisme bisa dibagi menjadi empat jenis utama:
Baca Juga:
Tradisi Filsafat Timur dan Barat
1. Skeptisisme Kehidupan Sehari-Hari
Ini adalah keraguan dalam menilai klaim sehari-hari. Misalnya, saat sebuah iklan menyebut produknya "terbaik di dunia" dengan cara bombastis, sikap skeptis membuat kita berpikir: "Kalau memang terbaik, mana buktinya?"
Sikap ini bukan untuk menolak semua klaim, tetapi untuk memastikan kita tidak mudah terjebak pada promosi, opini, atau janji kosong.
Baca Juga:
Dialektika: Dari Socrates hingga Hegel
Sering kali, manusia mudah terpukau oleh mayoritas. Ketika banyak orang percaya sesuatu, kita cenderung ikut percaya tanpa memeriksa. Di sinilah skeptisisme menjadi pelindung: ia memaksa kita bertanya, "Benarkah ini fakta, atau hanya ikut-ikutan?"
2. Skeptisisme Filosofis
Dalam filsafat, skeptisisme menyasar pengetahuan mendasar -empiris maupun metafisik. Tokoh seperti Ren Descartes terkenal dengan metode skeptisnya: ia meragukan semua hal, termasuk dunia luar dan bahkan keberadaan dirinya sendiri. Ia membayangkan: "Mungkin semua ini hanya mimpi, atau tipu daya iblis."
Namun, dari keraguan itu, Descartes menemukan kepastian: Cogito, ergo sum ("Aku berpikir, maka aku ada"). Skeptisisme di sini dipakai bukan untuk berhenti percaya, tapi untuk menemukan pondasi pengetahuan yang tak tergoyahkan.
3. Skeptisisme Etis
Jenis ini mempertanyakan standar moral atau kebenaran yang diterima masyarakat. Misalnya:
Meragukan klaim pengobatan alternatif atau praktik perdukunan karena tidak ada bukti ilmiah.
Menguji norma sosial seperti pernikahan atau relasi tertentu: apakah benar norma itu lahir dari moral universal, atau hanya produk budaya?
Skeptisisme etis penting agar kita tidak menerima standar moral hanya karena tradisi, tapi juga tidak menolak semua norma tanpa alasan.
4. Skeptisisme Ilmiah
Dalam sains, skeptisisme adalah sikap untuk selalu menguji, mempertanyakan, dan meminta bukti yang kuat atas setiap klaim. Ini bukan sikap "anti-sains", justru fondasi metode ilmiah.
Contoh wajar:
Keraguan terhadap penentuan usia fosil jutaan tahun -- bukan untuk menolak, tetapi untuk memahami metode penanggalannya.
Bertanya bagaimana jarak bintang diukur hingga tahun cahaya, agar tahu dasar perhitungannya.
Skeptisisme ilmiah membantu mencegah ilmu berubah jadi dogma buta.
Untuk artikel lengkap: Skeptisisme: Saat Semua Diragukan
[Redaktur: Ramadhan HS]