Aristoteles-Logika Formal dan Retorika
Meskipun Aristoteles (384-322 SM) lebih dikenal karena logika formalnya, ia tetap berkontribusi pada dialektika dengan mengajarkan teknik argumen, kategorisasi, dan retorika yang mendukung proses dialektis.
Abad Pertengahan-Ilmu Wajib Trivium
Di universitas abad pertengahan, dialektika menjadi bagian dari trivium (bersama tata bahasa dan retorika). Dialektika berfungsi sebagai sarana utama melatih kemampuan logika dan argumentasi bagi para cendekiawan Eropa (Dialektika.id).
Baca Juga:
Tradisi Filsafat Timur dan Barat
Hegel-Tesis, Antitesis, Sintesis
Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831) menyusun dialektika menjadi sistem filsafat sejarah dan ide. Ia melihat bahwa perkembangan ide dan sejarah berjalan melalui konflik internal (tesis vs antitesis) yang kemudian menghasilkan sintesis-tahap baru yang lebih kompleks (sumber: Oxford).
Karl Marx-Dialektika Materialis
Karl Marx (1818-1883) mengadaptasi kerangka Hegel, tetapi memusatkannya pada konflik kelas dan ekonomi sebagai motor perubahan sejarah. Dialektika Marx bersifat materialis, bukan idealis, karena menekankan kondisi material sebagai penentu (sumber:Study.com).
Tokoh-Tokoh Timur dalam Tradisi Dialektika
Baca Juga:
Dialektika: Dari Socrates hingga Hegel
Meskipun istilah "dialektika" lebih lekat pada Barat, beberapa tradisi Timur juga mengembangkan pendekatan serupa, meskipun dengan istilah berbeda:
Zhuangzi (369-286 SM) dalam filsafat Tao menggunakan dialog paradoks dan ironi untuk mengeksplorasi relativitas kebenaran.
Nagarjuna (abad ke-2 M) dari tradisi Buddhis Mahayana menggunakan logika dialektis dalam Madhyamaka untuk membongkar ilusi dualitas realitas.