Sejak abad pertengahan, filsafat Barat mengalami institusionalisasi di universitas-universitas seperti Paris, Bologna, dan Oxford. Penerjemahan karya Aristoteles dari bahasa Yunani dan Arab ke Latin, melalui tokoh-tokoh Muslim seperti Avicenna (Ibn Sn, 980-1037) dan Averroes (Ibn Rushd, 1126-1198), memperkaya skolastisisme Eropa. Thomas Aquinas (1225-1274) mensintesiskan teologi Kristen dengan Aristotelianisme, membangun fondasi metode skolastik berbasis disputatio (debat formal).
1.3. Genealogi Filsafat Timur
Baca Juga:
Dialektika: Dari Socrates hingga Hegel
Filsafat India berakar pada teks-teks Weda (1500-1000 SM) dan berkembang melalui Upaniad (800-500 SM) yang menyelidiki Brahman (realitas absolut) dan tman (diri sejati). Enam aliran ortodoks (adarana) muncul, salah satunya Nyya, yang mengembangkan kerangka logika formal. Nyya Stra karya Akapda Gautama (sekitar abad ke-2 SM) menyatakan:
" (pratyaknumnopamgam pramni, "Persepsi, inferensi, perbandingan, dan kesaksian adalah sarana pengetahuan").
Tradisi Buddhisme India, melalui tokoh seperti Dignga (480-540 M) dan Dharmakrti (600-660 M), mengembangkan hetuvidy (ilmu alasan) yang berorientasi pada validitas tanda (linga) dan hubungan universal (vypti).
Di Tiongkok, Konfusius menekankan etika relasional (ren, "kemanusiaan") dan tatanan sosial (li, "ritual dan norma"), sementara Laozi, melalui Tao Te Ching, mengajarkan harmoni kosmik:
" (rn f d, d f tin, tin f do, do f zrn, "Manusia mengikuti Bumi. Bumi mengikuti Langit. Langit mengikuti Tao. Tao mengikuti yang alami").
Aliran Taoisme dan Konfusianisme kemudian membentuk fondasi etika politik dan sosial di Asia Timur.
1.4. Dikotomi Timur-Barat: Konstruksi Modern
Baca Juga:
Dialektika: Dari Socrates hingga Hegel
Istilah "filsafat Timur" dan "filsafat Barat" sendiri baru menguat pada era kolonial (abad ke:18-19), ketika universitas Eropa mendefinisikan filsafat sebagai tradisi rasional yang berakar dari Yunani-Latin-Kristen. Pemikiran Asia kerap dikelompokkan sebagai "mistik" atau "religius", sehingga terpinggir dari kanon akademik. Padahal, riset modern dari sarjana seperti Bimal Krishna Matilal dan Jitendra Nath Mohanty menunjukkan bahwa logika Nyya dan epistemologi Buddhis memiliki rigor setara dengan logika Aristotelian.
1.5. Interaksi Awal dan Pertukaran Intelektual
Pertukaran ide Timur dan Barat bukanlah fenomena baru. Pada era Helenistik, sejak penaklukan Alexander Agung (abad ke-4 SM), filsafat Yunani bertemu dengan tradisi India di Baktria dan Gandhara. Pada abad pertengahan, karya-karya filsuf Muslim yang menyintesis Aristotelianisme dengan tradisi Timur (seperti al-Farabi dan al-Ghazali) menjadi jembatan penting yang akhirnya sampai ke Eropa Latin. Universitas-universitas di Bologna, Paris, dan Oxford banyak bergantung pada terjemahan dan komentar pemikir Muslim untuk memahami Aristoteles.