SUMBAR.WAHANANEWS.CO – Nama Wardah telah menjadi bagian tak terpisahkan dari industri kosmetik nasional. Di balik kesuksesan merek halal terbesar di Indonesia itu, berdiri sosok perempuan tangguh asal Padang Panjang, Nurhayati Subakat, yang membangun bisnis raksasa dari langkah sederhana industri rumahan.
Nurhayati Subakat lahir di Padang Panjang pada 27 Juli 1950. Ia merupakan putri dari Abdul Muin Saidi, tokoh Muhammadiyah sekaligus pedagang yang dikenal ulet. Sejak muda, karakter disiplin dan kepemimpinan Nurhayati ditempa di Diniyyah Puteri, lembaga pendidikan perempuan legendaris di Sumatera Barat.
Baca Juga:
Mengenal Lebih Dekat Pesta Rakyat Malam Puncak HUT Kota Medan Ke-434 Tahun 2024
Ujian hidup datang saat sang ayah wafat ketika ia masih menempuh pendidikan. Dalam kondisi itu, Nurhayati membantu ibunya berdagang, sembari tetap mempertahankan prestasi akademik. Ketekunan tersebut mengantarkannya menjadi lulusan terbaik Fakultas Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB).
Langkah awal bisnis Nurhayati dimulai pada 1985 bersama sang suami, Subakat Hadi, melalui usaha rumahan produk perawatan rambut bermerek Putri. Perjalanan tidak mudah, namun konsistensi dan integritas menjadi fondasi utama yang terus dijaga.
Titik balik besar terjadi pada 1995 saat ia meluncurkan Wardah. Di tengah dominasi produk impor, Nurhayati mengambil langkah berani dengan menghadirkan kosmetik berkonsep halal, sebuah terobosan yang kala itu belum banyak dilirik pelaku industri. Keputusan tersebut terbukti visioner.
Baca Juga:
Mengenal Sosok Bacalon Bupati Toba dr Suryadi, Bergerak Bidang Kesehatan Hingga Perjalanan Karirnya
Kini, di bawah naungan PT Paragon Technology and Innovation, Wardah berkembang pesat bersama merek-merek ternama lain seperti Make Over, Emina, dan Kahf. Perusahaan ini telah mempekerjakan lebih dari 12 ribu karyawan dan memperluas jaringan hingga ke Malaysia.
Di luar dunia bisnis, Nurhayati dikenal luas sebagai filantropis. Ia tercatat menyumbangkan Rp52 miliar sebagai dana abadi untuk ITB dan mengalokasikan Rp40 miliar untuk bantuan medis saat pandemi Covid-19. Baginya, bisnis adalah sarana memberi manfaat bagi masyarakat.
Filosofi hidupnya terangkum dalam lima nilai utama: ketuhanan, kepedulian, kerendahan hati, ketangguhan, dan inovasi. Nilai-nilai inilah yang menjadi ruh perusahaan dan membentuk budaya kerja Paragon hingga kini.