Bengkulu.WahanaNews.co, Mukomuko - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, mendukung desa untuk mengadakan sosialisasi dan edukasi tentang penanggulangan penyakit Tuberkulosis (TBC) dengan mengalokasikan dana desa pada tahun 2024.
Kasi Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Mukomuko Ruli Herlindo di Mukomuko, Kamis (28/11/2024), mengatakan enam desa yang mengadakan sosialisasi dan edukasi tentang cara mengatasi penyakit TBC.
Baca Juga:
Dinkes Kaltim Salurkan Rp10 Miliar Dukung Program Jaminan Kesehatan Tiga Daerah
"Enam desa ini, yakni lima desa di Kecamatan Air Manjuto dan satu desa di Kecamatan Penarik. Enam desa ini melibatkan Dinas Kesehatan sebagai narasumber dalam kegiatannya," katanya.
Ia mengatakan yang menjadi sasaran kegiatan sosialisasi dan edukasi tentang cara mengatasi penyakit TBC ini adalah kader kesehatan desa dan perangkat desanya.
Dia menambahkan, enam desa ini menggunakan dana desa tahun 2024 untuk mengadakan sosialisasi dan edukasi tentang cara mengatasi penyakit TBC.
Baca Juga:
Pemkot Jakarta Utara Berupaya Tekan Penyebaran Tuberkulosis Melalui Sudinkes
Selain enam desa ini, katanya, kemungkinan ada desa lain yang mengalokasikan dana desa untuk menggelar sosialisasi tentang cara mencegah dan mengatasi penyakit jenis lainnya.
Kemudian, kata dia, ada juga desa yang mengadakan sosialisasi tentang cara mengatasi stunting dan mendukung program pemberian makanan tambahan (PMT) di posyandu untuk mencegah gizi buruk.
Selanjutnya, dia mendorong desa lainnya di daerah ini mengadakan kegiatan yang sama dengan enam desa lain, yakni cara mengatasi penyakit TB.
Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mukomuko sejak bulan Januari-Oktober 2024.
menangani sebanyak 290 pasien penyakit Tuberkulosis atau TBC.
"Semua pasien TBC selama ini kita obati sampai sembuh. Di puskesmas ada semua obat TBC," ujar dia.
Ia mengatakan sebanyak 290 pasien itu yang dinyatakan positif mengidap penyakit TBC. Selain itu ada juga orang yang menjadi terduga menderita penyakit ini yang berjumlah 1.640 orang.
Ia menjelaskan orang yang terduga mengidap penyakit TBC adalah mereka yang mengalami batuk selama lebih dari dua pekan, apalagi setelah diberikan obat mereka tidak kunjung sembuh.
Ia mengatakan, selama ini kalau ada orang yang batuk, diambil dahaknya lalu diperiksa di mesin Tes Cepat Molekuler (TCM). Kalau mesin menjawab negatif, maka ada upaya lain untuk memastikan orang ini positif atau negatif TBC, misalnya dengan cara Rontgen.
[Redaktur: Amanda Zubehor]