SUMBAR.WAHANANEWS.CO, Pasaman – Fakta-fakta terkait kasus dugaan penganiayaan terhadap Nenek Saudah di Lubuk Aro, Nagari Padang Mentinggi, Kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman, mulai terungkap. Terduga pelaku berinisial IS (26) diketahui memiliki hubungan keluarga dengan korban.
Kepada awak media, IS mengakui perbuatannya dan menyatakan penyesalan atas tindakan kekerasan yang dilakukannya. Ia menegaskan bahwa aksi tersebut dilakukan seorang diri, bukan secara berkelompok sebagaimana informasi yang sempat beredar sebelumnya.
Baca Juga:
Nenek Saudah Dikeluarkan dari Komunitas Lubuk Aro, Publik Pertanyakan Penegakan Hukum
IS menyebutkan, peristiwa itu terjadi karena dirinya berada dalam kondisi emosi yang memuncak. Ia mengaku kerap mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari korban, termasuk ucapan kasar dan ancaman, baik terhadap dirinya maupun keluarganya.
Menurut pengakuan IS, dirinya juga pernah mengalami insiden penyerangan oleh korban menggunakan senjata tajam pada waktu sebelumnya. Ia menyebut, bukan hanya dirinya, namun beberapa warga sekitar juga pernah mengalami perlakuan serupa.
Selain itu, IS mengklaim adanya persoalan sengketa tanah antara korban dan keluarganya yang turut memperkeruh hubungan di antara mereka.
Baca Juga:
LBH Padang Desak Polres Pasaman Ungkap Pelaku Lain dalam Kasus Penganiayaan Nenek Saudah
“Saya sakit hati karena masalah tanah dan sering mendapat perlakuan kasar. Emosi saya sudah memuncak saat kejadian itu,” ujar IS, Kamis (7/1).
IS menceritakan, saat kejadian dirinya berada di sekitar Sungai Lubuk Aro, yang selama ini digunakan sebagai lokasi pemandian bagi kaum laki-laki. Ia mengaku didatangi korban yang dalam keadaan marah sambil melontarkan sumpah serapah.
IS mengaku sempat meminta korban menjauh, namun korban tetap mendekat sambil terus mengeluarkan kata-kata kasar. Dalam kondisi emosi tersebut, IS kemudian melakukan pemukulan hingga korban terjatuh ke dalam air.
“Saya khilaf. Beliau yang datang menghampiri saya dengan sumpah serapah,” ujar IS, yang diketahui berprofesi sebagai guru pendidikan agama Islam di salah satu sekolah di Kabupaten Pasaman.
IS mengakui terdapat beberapa kali pukulan yang mengenai wajah korban hingga korban tidak sadarkan diri di dalam air.
Hingga kini, kasus tersebut masih dalam penanganan pihak kepolisian untuk mengungkap peristiwa secara menyeluruh dan memastikan proses hukum berjalan sesuai ketentuan.
[Redaktur: Ramadhan HS]