BENGKULU.WAHNANEWS.CO, Jakarta – Aksi seorang wanita yang menyamar sebagai pramugari Batik Air dalam penerbangan komersial rute Palembang–Jakarta pada Selasa (6/1/2026) berujung pada penanganan oleh pihak berwenang di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Perempuan yang viral di media sosial itu dikenal dengan nama Khairun Nisa atau Nisya, usia 23 tahun, asal Palembang.
Setibanya di Bandara Soetta, petugas Aviation Security (Avsec) langsung memeriksa dan mengamankan Nisya untuk pemeriksaan lebih lanjut oleh polisi. Aksi itu dipicu setelah sejumlah awak kabin Batik Air mencurigai identitas dan perilakunya di dalam pesawat.
Baca Juga:
Kronologi Lengkap "Nisya Pramugari Batik Air" Tapi Bohongan
Pihak maskapai juga ikut melakukan pemeriksaan awal. Ketika dicek, tanda pengenal (ID card) yang dibawa Nisya ternyata merupakan desain lama yang sudah tidak dipakai oleh awak kabin Batik Air sejak lebih dari satu dekade lalu.
Kasat Reserse Kriminal Polres Bandara Soekarno-Hatta, Kompol Yandri Mono, menjelaskan bahwa Nisya sebenarnya bukan awak kabin resmi maskapai, tetapi penumpang biasa yang membeli tiket sendiri. Ia sempat memasuki jalur khusus awak kabin (fast track) dalam bandara, namun kecurigaan awak kemudian dilaporkan ke pihak Avsec.
Kecurigaan dan pemeriksaan lanjutan muncul karena beberapa hal:
Baca Juga:
Kronologi Lengkap "Nisya Pramugari Batik Air" Tapi Bohongan
Seragam dan atribut yang dipakai tidak sesuai standar seragam aktif Batik Air.
Nisya menunjukkan kartu identitas yang tidak berlaku dan berbeda coraknya dari seragam resmi.
Saat diajak berinteraksi, Nisya terlihat bingung dan tidak mampu menjawab pertanyaan soal prosedur awak kabin yang seharusnya dipahami staf penerbangan profesional.
Dalam pemeriksaan itu, Nisya akhirnya mengakui perbuatannya. Dia mengaku sengaja mengenakan seragam dan atribut pramugari Batik Air saat naik pesawat karena ingin meyakinkan keluarganya bahwa dirinya sudah bekerja di maskapai tersebut.
Motivasi ini berkaitan dengan kondisi tekanan psikologis dan sosial. Polisi menjelaskan Nisya pernah mencoba melamar menjadi pramugari tetapi gagal lolos seleksi, dan ia merasa malu mengakui hal tersebut kepada orang tua serta lingkungan. Demi menutupi kegagalan itu, ia nekat memakai atribut pramugari dalam penerbangan tersebut.
Dalam video klarifikasi yang kini beredar di media sosial, Nisya juga menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada pihak Batik Air dan Lion Group, dengan menegaskan bahwa dirinya bukan pramugari sungguhan meski memakai seragam lengkap.
Pihak berwenang menegaskan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan, tidak ditemukan unsur pidana berat atau tindakan kriminal yang diperkarakan langsung oleh maskapai. Kasus ini lebih dipandang sebagai kejadian yang harus diluruskan secara administratif dan sosial, sehingga Nisya akhirnya dikembalikan kepada pihak keluarga setelah klarifikasi selesai dilakukan.
Kasus ini turut menjadi sorotan publik dan memicu diskusi luas di media sosial mengenai keamanan penerbangan, prosedur identifikasi kru pesawat, serta dampak tekanan sosial terhadap individu yang merasa terpojokkan oleh ekspektasi keluarga atau lingkungan.
[Redaktur: Ramadhan HS]