"Jika kebenaran tidak bisa diverifikasi dengan logika, maka ia bukan kebenaran, hanya keyakinan rapuh'.- ini memberikan arti bahwa logika sendiri tidak boleh jadi tiran; ia harus mengakui batasnya, karena ada hal-hal yang berada di luar jangkauan akal manusia."
Pernyataan ini lahir dari kesadaran bahwa manusia sering tergoda oleh perasaan, bias, dan retorika. Kita melihat dunia modern dipenuhi hoaks, propaganda, dan manipulasi politik yang mengandalkan emosi. Tanpa logika, manusia hanyut. Dengan logika, kita punya kompas intelektual untuk menilai setiap klaim.
Baca Juga:
Tradisi Filsafat Timur dan Barat
Bahkan dalam agama, logika berperan vital. Al-Ghazali sendiri memulai pencarian kebenaran dengan keraguan, sebelum menyimpulkan bahwa akal dan indera memiliki keterbatasan, dan kebenaran tertinggi memerlukan cahaya ilahi. Tapi ia tetap menegaskan: akal dan logika adalah jalan yang wajib ditempuh agar iman tidak buta.
Struktur Dasar Logika
Agar tidak menjadi konsep yang kabur, logika harus dipahami melalui unsur-unsurnya:
Baca Juga:
Dialektika: Dari Socrates hingga Hegel
Premis: pernyataan dasar yang dijadikan landasan berpikir.
Inferensi: cara menarik kesimpulan dari premis.
Kesimpulan: hasil akhir yang sahih jika inferensi valid.