Namun, dari keraguan itu, Descartes menemukan kepastian: Cogito, ergo sum ("Aku berpikir, maka aku ada"). Skeptisisme di sini dipakai bukan untuk berhenti percaya, tapi untuk menemukan pondasi pengetahuan yang tak tergoyahkan.
3. Skeptisisme Etis
Baca Juga:
Tradisi Filsafat Timur dan Barat
Jenis ini mempertanyakan standar moral atau kebenaran yang diterima masyarakat. Misalnya:
Meragukan klaim pengobatan alternatif atau praktik perdukunan karena tidak ada bukti ilmiah.
Menguji norma sosial seperti pernikahan atau relasi tertentu: apakah benar norma itu lahir dari moral universal, atau hanya produk budaya?
Baca Juga:
Dialektika: Dari Socrates hingga Hegel
Skeptisisme etis penting agar kita tidak menerima standar moral hanya karena tradisi, tapi juga tidak menolak semua norma tanpa alasan.
4. Skeptisisme Ilmiah
Dalam sains, skeptisisme adalah sikap untuk selalu menguji, mempertanyakan, dan meminta bukti yang kuat atas setiap klaim. Ini bukan sikap "anti-sains", justru fondasi metode ilmiah.