Bengkulu.WahanaNews.co | Puluhan masyarakat di Pantai Pasar Bengkulu tepatnya tak jauh dari kualo beberapa hari ini terlihat sibuk mengumpulkan limbah batu bara yang menepi di pinggir pantai.
Diketahui limbah batu bara ini berasal dari sungai Muara Bangkahulu. Limbah batu bara yang diduga hanyut ke laut kemudian menepi akibat badai angin barat.
Baca Juga:
Pemerintah Rampungkan Revisi PP untuk Tingkatkan PNBP Sektor Minerba
Mardi (53) seorang pengumpul limbah batu bara menjelaskan batu bara yang menepi ke bibir pantai akibat cuaca badai dan sudah terjadi selama beberapa bulan terakhir. Batu bara dikumpulkan dengan cara di jaring dan dikarungi serta dijual dapat dijual ke pengepul batu bara.
“Batu bara menepi ke bibir pantai karena terjadi angin barat. Sudah sekitar lima bulan ini terjadi. Perkarung kami jual Rp 13 ribu,” katanya.
Aktivitas penjaringan limbah batubara digeluti semua kalangan lakilaki, perempuan, terlihat ratusan karung batu bara yang terkumpul di pinggir pantai kualo dan siap dijual kembali.
Baca Juga:
Bali Lepas dari Ketergantungan PLTU Paiton, Jalan Panjang Menuju Energi Terbarukan
Setiap satu penjaring limbah batubara dapat mengumpulkan 5 – 10 karung perhari. “Kalo banyak sampah mendarat artinya banyak batu bara juga, jadi patokannya cuaca,” Tambah Mardi.
Feni (23) tukang catat pengepul limbah batu bara menerangkan, harga beli pengepul ke penjaring limbah batu bara memang benar sekitar Rp 13 ribuan di sekitar pantai kualo, yang lebih mahal di area sungai Muara Bangkahulu.
“Kalau disini segitu kami beli, yang lebih mahal di area sungai Bangkahulu kami beli Rp 20 ribu per karung.” terangnya.