Pernyataan tersebut memicu kekecewaan warga karena kondisi di lapangan dinilai belum sesuai dengan klaim perbaikan yang diumumkan sebelumnya - terutama di daerah-daerah terpencil dan wilayah pemutusan jaringan.
Reaksi Pejabat: Klarifikasi dan Penjelasan Teknis
Baca Juga:
Di Jepang Prabowo Bertemu Investor Sebut RI Tak Pernah Gagal Bayar Utang
Menanggapi protes dan sorotan publik, Bahlil memberi klarifikasi bahwa angka yang dilaporkan merujuk pada persentase pemulihan sistem kelistrikan utama - seperti gardu induk, transmisi, dan pembangkit - bukan persentase rumah tangga yang sudah menyala sepenuhnya.
Namun, kritik publik tetap kuat karena banyak warga yang masih merasakan pemadaman signifikan di rumah masing-masing korban bencana.
Situasi di Lapangan: Keluhan Warga terhadap Listrik dan Logistik
Baca Juga:
Sinyal Rekonsiliasi Politik, Prabowo dan Megawati Bertemu di Istana
Seorang relawan yang mewakili warga pengungsi menyampaikan secara emosional keluhan panjang yang mereka rasakan: kurangnya logistik, air bersih, sinyal telekomunikasi, dan listrik yang belum stabil hingga hari ini. Permintaan itu disampaikan langsung kepada Presiden dalam forum dialog dengan warga.
Tantangan Pemulihan: Infrastruktur Rusak Parah
Pemadaman listrik di Aceh tidak hanya baru terjadi akibat bencana terkini. Sebelumnya pada Oktober 2025, warga Aceh juga masih mengalami pemadaman panjang akibat gangguan jaringan, yang sempat menjadi sorotan publik sebagai salah satu pemadaman terburuk pascakonflik dan tsunami besar di wilayah tersebut.