BENGKULU.WAHANANEWS.CO, Kota Bengkulu – Logika adalah tulang punggung filsafat, dan di balik logika ada tiga pilar utama: premis, argumen, dan kesimpulan. Tanpa memahami bagaimana ketiganya bekerja, filsafat akan terjebak dalam retorika tanpa arah. Episode ini membahas secara ilmiah- dengan jejak dari Aristoteles hingga Al-Farabi, dari Oxford hingga Harvard-bagaimana akal membangun kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan.
1. Premis: Titik Awal Segala Penalaran
Baca Juga:
Tradisi Filsafat Timur dan Barat
Secara etimologis, premis berasal dari Latin praemittere ("meletakkan sebelumnya"). Dalam tradisi logika Aristotelian, premis adalah batu pijakan yang mendasari silogisme, yaitu kerangka pikir yang menghubungkan fakta atau prinsip agar dapat ditarik kesimpulan.
Premis bisa berbentuk:
1. Fakta empiris: "Air mendidih pada 100C."
2. Prinsip universal: "Semua yang hidup pasti mati."
3. Keyakinan metafisik: "Setiap akibat pasti ada sebab."
Dalam Organon, Aristoteles menegaskan premis harus jelas asal-usulnya: apakah ia didapat dari pengalaman (empiris), dari akal murni (rasional), atau dari konsensus metafisik. Premis yang kabur akan menghasilkan argumen rapuh.
Baca Juga:
Dialektika: Dari Socrates hingga Hegel
Filsuf Muslim seperti Al-Farabi dalam Kitab al-Burhan dan Al-Ghazali dalam Maqasid al-Falasifah menekankan pentingnya memilah premis: fakta harus dibedakan dari asumsi, dan keduanya dipisahkan dari keyakinan. Tanpa pembedaan ini, hujjah (argumentasi) bisa berubah menjadi dogma.
Dalam kerangka berpikir ilmiah (Oxford Handbook of Philosophy), pemilahan premis adalah fase verifikasi pertama. Ia memastikan bahwa setiap klaim yang dipakai akal berdiri di atas bukti atau prinsip yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan sekadar retorika.
2. Argumen: Jembatan Menuju Kebenaran