1. Jika premis benar dan argumen valid, kesimpulan pasti benar.
2. Jika salah satu premis lemah atau bentuk argumennya cacat, kesimpulan menjadi rapuh.
Baca Juga:
Tradisi Filsafat Timur dan Barat
Menurut Oxford Handbook of Epistemology, kesimpulan adalah "belief candidate" -keyakinan sementara yang sah, bukan kebenaran mutlak. Filsafat modern menyebut pendekatan ini sebagai fallibilism: kesadaran bahwa setiap kesimpulan bisa direvisi bila bukti baru muncul.
Dalam tradisi Islam, Al-Farabi menyebut tiga syarat kesimpulan sahih:
1. Premisnya bersandar pada pengetahuan yang yakin (bukan prasangka).
Baca Juga:
Dialektika: Dari Socrates hingga Hegel
2. Bentuk penalaran mengikuti kaidah silogisme atau qiys (analogi).
3. Tidak bertentangan dengan akal sehat maupun wahyu (untuk konteks teologis).
Contoh klasik kesimpulan deduktif: