Sebenarnya, situasi terisolasi tersebut melekat pada Bengkulu sejak provinsi itu terbentuk. Bahkan pada memori serah terima jabatan Gubernur Bengkulu pada 1989, Pemerintah Provinsi Bengkulu mengabadikan dalam buku berjudul "10 Tahun Menjebol Isolasi Bengkulu" mengutarakan bagaimana upaya Pemerintah Pusat dan provinsi membuka isolasi provinsi ini.
Buku setebal 294 halaman tersebut memuat berbagai upaya Pemerintahan ketika itu membangun Bengkulu dan membuatnya terkoneksi dengan daerah lain.
Baca Juga:
Pemprov Bengkulu Jajaki Hibah Barang dari DKI Jakarta, Wagub Mian Temui Gubernur Pramono Anung
Ketika itu, Bengkulu mendapatkan perhatian dari Pemerintah Pusat dalam program Pembangunan Lima Tahun (Pelita), yaitu program pembangunan terencana yang diwujudkan selama 5 tahun ke depan pada era Pemerintahan Orde Baru.
Dalam buku itu dijelaskan Bengkulu lahir hampir bersamaan dengan saat dimulainya Pelita I. Namun, sebagai akibat dari keadaan yang sangat lama terisolasi, sampai pada awal Pelita III Bengkulu masih jauh ketinggalan hampir dalam segala bidang bila dibandingkan dengan daerah lain.
Dalam Pelita I dan Pelita II belum banyak pembangunan yang dapat dilaksanakan karena pada periode-periode tersebut Pemerintah Provinsi Bengkulu masih disibukkan dengan kegiatan konsolidasi aparatur pemerintahan.
Baca Juga:
Pemprov Bengkulu Gelar Apel Siaga Bencana terkait Peringatan dari BMKG
Kemudian, sampai pada awal Pelita III Bengkulu masih dalam keadaan terisolasi, kesejahteraan penduduk rata-rata masih rendah, produksi pangan khususnya beras masih kecil, jumlah penduduk masih kurang, hingga pendidikan masih jauh ketinggalan.
Setelah pembangunan Bengkulu dalam Pelita III, barulah berbagai sasaran strategis dapat terwujud, termasuk akses transportasi darat ke provinsi tetangga.
Pada saat itu, isolasi Provinsi Bengkulu bisa dibuka, akses darat ke provinsi tetangga terwujud, ditambah dibangunnya jalur lintas barat Pulau Sumatera yang melewati Bengkulu.