Akan tetapi berselang beberapa dekade, kini Bengkulu kembali seakan "terisolasi" kembali.
Bukan karena Pemerintah Pusat dan daerah tidak membangun negeri pengasingan Bung Karno itu, melainkan karena situasi perkembangan zaman dan kondisi topografi daerahnya berdinding dikelilingi Bukit Barisan, memisahkan Bengkulu dengan empat provinsi tetangga.
Baca Juga:
Pemprov Bengkulu Jajaki Hibah Barang dari DKI Jakarta, Wagub Mian Temui Gubernur Pramono Anung
Memang akses darat penghubung ke Provinsi Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung sudah terwujud pada 1989, tetapi akses tersebut kini tidak lagi efisien untuk dilewati.
Begitu juga dengan jalur lintas barat Pulau Sumatera yang sudah ditinggalkan pengguna jalan akibat ongkos yang harus ditanggung jauh lebih mahal dibandingkan lewat lintas tengah atau timur Pulau Sumatera.
Alhasil, orang-orang ke Bengkulu kalau benar-benar ada tujuan keperluan datang, tidak seperti Provinsi Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, atau Lampung yang menjadi daerah perlintasan di Pulau Sumatera.
Baca Juga:
Pemprov Bengkulu Gelar Apel Siaga Bencana terkait Peringatan dari BMKG
Begitu pula distribusi barang, wilayah tengah dan selatan Sumatera lebih memilih mendistribusikan barang menuju pintu keluar masuk Pulau Sumatera yakni lewat pelabuhan di Sumatera Barat, Sumatera Selatan, atau Lampung.
Ongkos distribusi jadi pertimbangan sebab akan jauh lebih hemat menuju pelabuhan tersebut dibandingkan harus mengantarkan barang ke Pelabuhan Pulau Baai, Kota Bengkulu yang harus turun naik tebing curam jajaran hutan lindung Bukit Barisan.
Padahal sebenarnya, Bengkulu memiliki pelabuhan yang sangat strategis dan terkoneksi langsung dengan tol laut Sumatera.